Baca Juga
Home / Article / Ekonomi Jaman Now: Selfie Generation vs Pelemahan Daya Beli

Ekonomi Jaman Now: Selfie Generation vs Pelemahan Daya Beli

Sumber: creative-trader.com

Bulan Oktober kemarin untuk pertama kalinya dalam sejarah IHSG ditutup di level 6.000 pencapaian ini adalah pencapaian yang luar biasa untuk IHSG, karena seperti kita ketahui indeks satu negara sering dijadikan indikator kondisi ekonomi suatu negara. Jadi kalau IHSG berada di level tertingginya sepanjang sejarah, artinya kondisi Ekonomi Indonesia juga seharusnya ada dalam level terbaiknya sepanjang sejarah. Namun kita tahu saat ini berbagai berita kelesuan Ekonomi, pelemahan daya beli dan terjadinya penutupan gerai-gerai ritel.

Berikut ini pengamatan Team Riset Creative Trader mengenai kondisi yang sedang terjadi saat ini, yang kami berikan judul: Ekonomi Jaman Now: Selfie Generation vs Pelemahan Daya Beli

Kita tahu berita-berita kelesuan Ekonomi umumnya di angkat karena banyaknya perusahaan yang mengeluhkan akan lemahnya daya beli, beberapa perusahaan besar bahkan sudah mulai menutup beberapa gerainya karena sepi pembeli.

Saya pribadi sering bertanya dengan rekan-rekan pengusaha mengenai kondisi bisnisnya, dan memang mayoritas mengeluh akan sepinya pembeli, namun memang harus di akui ada juga pengusaha-pengusaha baik skala besar sampai kecil yang bisnisnya berjalan baik-baik saja bahkan masih terus aggressive melakukan ekspansi.

Namun terlepas dari apa yang dikatakan banyak pengusaha dan berita-berita mengenai kelesuan ekonomi, jika kita melihat beberapa Indikator Ekonomi datanya tidak menunjukan adanya kelesuan ekonomi, antara lain :

  • Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, dari data GDP kita tahu Ekonomi dalam negeri sampai saat masih tumbuh secara stabil. Jadi bisa dikatakan secara Makro Ekonomi tidak terjadi apa-apa pada ekonomi nasional.
  • Keuntungan Sektor Perbankan masih terus tumbuh secara konsisten. Kita tahu Bank adalah tempat dimana seluruh uang berada, dan Bank bertugas ‘memutarkan’ uang tersebut ke publik melalui kredit. Jadi logika sederhananya kalau daya beli masyarakat turun, karena uang yang mereka miliki semakin sedikit, dan mayoritas usaha-usaha yang ada gagal membayar pinjamannya ke Bank, maka harusnya industri perbankan terkena impactnya secara langsung. Namun kenyataanya sampai kuartal ketiga kemarin, laba emiten-emiten perbankan masih baik-baik saja, dan masih bisa terus bertumbuh dalam level yang sangat sehat.

PERUBAHAN GAYA HIDUP MASYARAKAT

Kelesuan Ekonomi dan Pelemahan Daya Beli memang masih menjadi perdebatan, namun kita semua kemungkinan setuju akan adanya  perubahan gaya hidup yang cukup ekstreme dan cukup cepat di Indonesia. Era Digital tampaknya semakin lama semakin cepat memberikan kontribusi terhadap perubahan gaya hidup di masyarakat.

Dalam artikel ini kami akan menghighlight empat aplikasi: Facebook, Instagram, Gojek dan Traveloka.

Dua aplikasi pertama adalah aplikasi sosial media, dari situ kita bisa melihat secara jelas bagaimana gaya hidup teman-teman kita, jika anda pengguna Instagram anda bahkan akan melihat secara jelas bagaimana ‘Selfie Generation’ terbentuk, bagaimana status sosial bisa dibangun dengan memposting  photo selfie di berbagai tempat, di berbagai kota, berbagai negara dan berbagai restoran.

Menariknya jika diamati, gaya hidup baru ini tidak hanya ‘menjangkit’ anak-anak remaja di bawah 20 tahunan, tapi juga orang dewasa muda, dan keluarga muda dengan usia di bawah 40 tahun, dan jumlah penduduk di bawah 40 tahun di Indonesia mencapai lebih dari 60% populasi nasional.

Itu sebabnya terlepas dari banyaknya pengusaha yang mengeluh akan lemahnya daya beli masyarakat, namun hotel-hotel baru terus bermunculan, kami yang berdomisili di Bandung, dan hampir setiap bulan Travelling ke berbagai kota di Indonesia menjadi saksi akan begitu cepatnya kemunculan hotel-hotel baru di berbagai kota besar yang sering kami kunjungi. Artinya meskipun tidak ada peningkatan signifikan pada jumlah penduduk Indonesia dalam 3 tahun terakhir, namun ada peningkatan yang sangat signifikan dari jumlah orang yang berlibur ke luar kota dan ke luar negeri.

Bandung menjadi kota yang menarik untuk dijadikan contoh akan perubahan perilaku konsumen, karena meskipun setiap akhir pekan Bandung luar biasa macet, karena banyaknya pengunjung dari luar kota. Namun berbagai Factory Outlet (FO) di jalan-jalan protokol yang biasa dikunjungi oleh turis, justru tutup. Padahal beberapa tahun yang lalu FO tersebutlah yang menjadi penarik utama para turis dalam negeri untuk datang ke Bandung.

Namun meskipun tidak belanja di FO, tapi setiap orang tentu masih butuh makan, dan supaya teman-teman tau kalau kita ke Bandung maka harus selfie di resto-resto khas Bandung, kalau bisa photo juga makanan-makanan yang terkesan unik dan ellegant. Tanpa adanya kenaikan income yang signifikan dari penduduk Indonesia, untuk mengikuti gaya hidup yang baru ini, maka harus dilakukan alokasi budget karena sudah bayar hotel, bayar makan, maka budget belanja harus dikurangi.

Trend alokasi budget dan penghematan di berbagai pengeluaran yang bisa dihemat ini juga sedang ‘booming’ saat ini, itu sebabnya aplikasi-aplikasi seperti Traveloka yang sering memberikan diskon-diskon langsung menjadi pilihan konsumen dalam membeli tiket dan memsan hotel.

Apalagi yang bisa dilakukan untuk menghemat?  Belanja secara Online, dari pakaian sampai alat-alat elektronik sekarang semua bisa dibeli secara Online, selain hargannya jauh lebih murah, belanja online juga bisa menghemat waktu dan biaya transportasi.

Belum lagi kehadiran Gojek yang mempermudah semuanya, bukan hanya memberikan kita alternative transportasi yang lebih murah dan cepat. Dengan Gojek kita bisa memesan makanan, tiket, mengirim barang,belanja di Super Market dll. Semua itu berdampak pada perubahan perilaku konsumen, dan akhirnya berdampak pada struktur ekonomi dalam negeri.

Terakhir salah satu pelajaran lainnya bisa kita lihat di Papan-Papan Iklan yang kita lihat di jalan. Kita bisa melihat perusahaan-perusahaan apa saja yang sekarang memenuhi papan iklan tersebut. Umumnya Smartphone, Aplikasi Online, Liburan, Bank, Industri Kecantikan (karena untuk selfie bagus, muka harus terawat).

Artinya memang bisnis-bisnis itulah yang saat ini sedang tumbuh, dan sedang aggresive memperluas marketnya. Sementara banyak usaha-usaha lainnya yang tidak sanggup mengikuti perubahan ini, bukan karena dikelola dengan buruk, namun karena perubahannya terlalu cepat, dan terlalu besar.

Jadi sebagai investor kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap perubahan yang sedang terjadi, karena perubahanya bisa berlangsung dengan cepat dan besar tanpa bisa diantisipasi perusahana-perusahaan yang terkena dampaknya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes
Ahsanul KabirWeb Development