Baca Juga
Home / Article / Pengalaman ‘orang bodoh’ yang Kaya dari Saham

Pengalaman ‘orang bodoh’ yang Kaya dari Saham

Selama ini sosok Investor ritel yang paling dikenal publik adalah bapak Lo Kheng Hong, beliau adalah sosok investor yang bukan hanya sangat sukses, namun juga sangat bersahaja, dan tidak keberatan menceritakan berbagai prinsip-prinsip investasi dan kesuksesannya di bursa saham kepada publik. Beliau adalah sosok yang sangat sederhana, gaya dan pembawaanya juga tidak pernah berubah sejak pertama kali saya bertemu beliau sampai dengan kemarin ketika kami sama-sama diminta untuk menjadi pembicara dalam acara INFEST 2017.

Yang tidak banyak diketahui adalah, selain pak Lo Kheng Hong sebenarnya masih banyak investor-investor sukses lainnya di bursa saham kita, namun bedanya mayoritas dari investor-investor tersebut bukanlah tipe orang yang mengejar popularital atau mau dikenal orang banyak, mereka juga tidak memiliki ‘passion’ untuk  mengajar atau berbagi pengetahuan atau pengalaman mereka di acara-acara publik. Sehingga untuk mengenal mereka memang sering kali dibutuhkan ‘koneksi’ yang lebih baik.

Setelah hampir 10 tahun saya ‘jatuh-bangun’ di dunia pasar modal, saya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan beberapa investor yang masuk dalam kategori tersebut, mereka yang sudah memperoleh kekayaan dalam jumlah besar dari berinvestasi di Bursa Saham Indonesia, namun memilih untuk menyembunyikan indentitasnya, dari sorotan publik.

Investor-investor sukses tersebut umumnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda, profesi yang berbeda-beda dan metode yang juga berbeda-beda dalam memperoleh keuntungan dari bursa saham. Ada yang senang ‘main’ saham Blue Chip, ada juga yang hobbynya ‘ngumpulin sampah’ (cara beliau mendeskripsikan metode yang digunakannya) investor yang membeli saham-saham di harga 50an dan di pasar nego, ada juga yang dari gaya ngomongnya saya memprediksi kalau investor tersebut adalah ‘bandar saham’, dan banyak metode lainnya. Ada investor yang percaya 100% terhadap analisa fundamental, ada juga yang menggunakan analisa bandarmologi, atau bahkan hanya menggunakan beberapa metode analisa teknikal yang paling dasar.

Jadi saya bisa mengambil keputusan bahwa memang ada banyak cara untuk bisa kaya raya dari pasar modal, tugas kita sebagai investor adalah mencari metode mana yang paling cocok dengan kita, dan setia mempraktekan metode tersebut, dan akan ada saatnya kerja keras, dan ketekunan tersebut akan terbayar.

Di antara investor-investor yang pernah saya temua saya menemukan salah seorang investor yang memiliki metode yang sangat-sangat sederhana, jauh lebih sederhana dibanding investor-investor sukses lainnya, begitu sederhananya metode tersebut sehingga banyak yang menganggap metode tersebut adalah metode yang ‘bodoh’.

Untuk mempelajari metode tersebut tidak perlu ikut seminar berhari-hari, tidak perlu membuat berbagai perhitungan valuasi dan matematika seperti yang dilakukan para analisa sekuritas. Metode beliau dalam memperoleh keuntunngan bisa dirangkum dalam 1 kalimat.

Ketika punya uang lebih, belikan saham BBCA.

Hanya itulah yang beliau lakukan selama bertahun-tahun menjadi investor di pasar modal kita, kalau beliau punya uang lebih dibelikan saham BBCA, beliau membeli saham BBCA hampir setiap bulan, karena memang ada bagian dari pendapatannya yang dialokasikan untuk investasi.

Metode tersebut sudah dilakukannya sejak awal tahun 2000an dan masih terus dilakukannya sampai sekarang. Jadi setiap kali saham BBCA mencetak record tertinggi barunya seperti yang terjadi hari Jumat lalu, saya selalu ingat dengan beliau, sambil terkadang ‘agak menyesal’ karena saya tidak ikut mengalokasikan sebagain dari uang saya setiap bulannya untuk mengikuti metode ‘bodoh’ tersebut.

Keuntungan yang sudah beliau peroleh dari ‘metode bodoh’ tersebut jelas sudah bisa sama-sama kita bayangkan, dalam grafik di atas kita bisa melihat saham BBCA sejak IPO tahun 2000 lalu sampai penutupan akhir bulan September kamarin. Dalam 17 tahun BBCA hanya turun di tahun 2008, sisanya harga saham BCA selalu naik setiap tahunnya.

Pada saat IPO harga BBCA ada di level 203/ lembar saham (sudah di dikonversi pasca stocksplit) , dan pada penutupan bulan September 2017 lalu harga BBCA sudah berada di level 20.300 / lembar saham, artinya harga saham BBCA sudah naik 10.000% dalam 17 tahun.

Dalam perbincangan saya dengan investor tersebut yang kalau tidak salah terjadi di tahun 2012 lalu, saya menanyakan kepada beliau apa alasan beliau memilih saham BBCA, apa yang membuat beliau begitu yakin dan terus membeli saham BBCA hampir setiap bulan.

Tujuan saya menanyakan hal tersebut karena pada saat itu saya menganggap harga saham BBCA sudah terlalu mahal, dimana di tahun 2012 lalu harga BBCA sudah berada di level 8000an, jadi saya beranggapan sudah terlambat untuk saya mengikuti metode yang beliau gunakan.

Jadi saya mencoba ‘mengorek’ ilmu beliau, guna mendapatkan ilmunya sehingga saya juga bisa menemukan saham-saham sejenis BBCA yang lainnya, yang harganya masih murah dan bisa saya ‘tabung’ setiap bulan.

Jawaban beliau justru ‘menohok’ saya lagi, beliau mengatakan dia adalah orang sibuk, dan tidak memiliki latar belakang dunia keuangan sama sekali, jadi dia tidak mengerti bagaimana caranya menghitung valuasi,  dia juga tidak punya waktu mengamati market setiap hari, atau mempelajari analisa-analisa canggih untuk membeli saham di waktu dan harga yang paling tepat.

Beliau mendeskripsikan dirinya sebagai ‘orang bodoh’ di dunia pasar modal, dimana satu-satunya ‘ilmu’ yang dia miliki dan dia percaya adalah: “kalau perusahaannya bagus, cepat atau lambat harga sahamnya akan naik”. Menurut dia daripada uangnya ditabung di Bank, lebih baik dia tabungkan untuk membeli saham perusahaan bagus tersebut.

Alasan memilih saham BBCA malah lebih sederhana lagi, karena ‘kebodohan’ nya beliau tidak banyak mengenal emiten-emiten yang berada di bursa kita, dari banyak peliihan hanya BCA yang beliau kenal dan percaya kalau perusahaannya bagus. Alasan lainnya adalah beliau juga merupakan nasabah dari Bank BCA, jadi beliau merasa bisa memantau perkembangan perusahaan ‘dari dalam’ dengan melihat bagaimana Bank BCA dioperasikan.

Itulah alasan beliau memilih saham BCA, alasan yang sangat sederhana dan semua orang tahu, namun tidak banyak yang mengambil kesempatan tersebut, mungkin karena kita merasa diri kita ‘terlalu pintar’ atau terlalu fokus mencari waktu paling tepat untuk membeli suatu saham, terlalu fokus mencari saham-saham yang akan terbang harganya tepat setelah kita membeli saham tersebut.

Dalam perbincangan saya dengan investor tersebut, beliau tidak pernah bercerita seberapa besar untung yang beliau peroleh setelah menggunakan ‘metode bodoh’ tersebut sejak tahun 2000an, namun yang pasti beliau mengatakan bahwa sejak dia tidak pernah menjual 1 lot pun sejak awal dia membeli saham BBBA. Dan dari beberapa orang lainnya saya mendapat info bahwa orang tersebut adalah investor ‘kelas kakap’ yang kerjanya hanya mengumpulkan saham BBCA.

Kemungkinan ‘metode bodoh’ itulah yang ditiru oleh pihak BEI ketika mereka merilis program Yuk Nabung Saham, dimana investor disarankan untuk memilih salah satu saham dengan fundamenal yang baik, dan menglokasikan sebagian dari penghasilannya untuk secara rutin menabung saham tersebut.

Strategi nabung saham memang tidak banyak dibahas oleh para praktisi pasar modal, karena selama ini praktisi pasar modal di bursa kita umumnya berasal (atau memiliki latar belakang dari sekuritas), dan kita sama-sama tahu Sekuritas hidup dan bertumbuh dari banyaknya transaksi yang dilakukan oleh investor. Bagi sebuah sekuritas keaktivan investor adalah tujuan utama, karena mereka hidup dari banyaknya transaksi dan bukan dari pembagian persentasi keuntungan yang diperoleh investor.

Jadi tidak heran gerakan Yuk Nabung Saham ini baru dimulai Bursa Efek Indonesia dan bukan oleh para analis atau praktisi pasar modal/sekuritas yang setiap hari kerjanya memberikan rekomendasi untuk dengan tujuan memberikan keuntungan bagi para investor, sesering mungkin.

Karena BEI adalah pihak yang tidak ‘dikejar setoran’ target transaksi tiap bulannya, target dan tujuan BEI adalah untuk memperkenalkan investasi di bursa efek ke masyarakat seluas mungkin. Namun meskipun program Yuk Nabung Saham sudah berjalan cukup berhasil jika dilihat dari peningkatan jumlah investor di bursa kita dalam 2 tahun terakhir. Namun banyak investor baru yang masih kebingungan dengan konsep nabung saham, kebingungan tersebut membuat sebagain dari investor akhirnya terjerumus di saham-saham gorengan, dan sebagian lagi memilih untuk diam karena kurangnya edukasi yang tersedia untuk mendukung program ini.

Itulah sebabnya pihak Bursa Efek Indonesia meminta perusahaan kami untuk melakukan riset dan meng-edukasi para Investor di bursa kita, dan mencari metode terbaik dalam menabung saham. Kami diminta untuk mencari ‘metode-metode bodoh’ lainnya, dan membantu para investor mencari saham yang akan menjadi ‘The Next BBCA’ di masa yang akan datang.

Kebetulan perusahaan kami memiliki keunikan dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lainnya, karena tidak seorangpun yang berada di Team Riset Creative Trader yang pernah bekerja di sekuritas. Tidak seorangpun penah mendapatkan ‘title’ atau ‘sertifikasi’ yang umumnya diberikan oleh para analis senior kepada para analis junior.

Kami hanyalah sekumpulan orang-orang creative yang kebetulan juga adalah investor dan trader saham. Setiap hari kami fokus mencari metode-metode baru dan creative untuk memperoleh keuntungan di bursa saham, metode-metode yang selama ini tidak pernah diajarkan bahkan dipikirkan orang lain.  Dan kami percaya Nabung Saham adalah salah satu metode menguntungkan tersebut.

Kami juga beruntung karena dipertemukan dengan pihak MNC Sekuritas, sebuah sekuritas yang memiliki visi jauh kedepan, dan bersedia mensupport kami dari sisi teknologi dalam melaksanakan Riset Yuk Nabung Saham.

Dalam beberapa bulan terakhir kami sudah melakukan riset mengenai Nabung saham, project pertama yang kami buat adalah membuat aplikasi khusus yang dapat menghitung proyeksi keuntungan yang diperoleh dengan menabung saham menggunakan berbagai metode yang kami pikirkan.

Setelah aplikasi tersebut selesai dibuat, saham BBCA menjadi saham pertama yang kami jadikan contoh kasus, karena kami sangat penasaran kurang lebih berapa keuntungan yang diperoleh investor yang diceritakan di atas dengan menggunakan ‘metode bodoh’ tersebut.

Berikut kami lampirkan hasilnya :

NABUNG SETIAP BULAN DI BBCA SEJAK IPO
Simulasi pertama yang kami lakukan adalah dengan menghitung jika sejak IPO BBCA tahun 2000 yang lalu anda memutuskan untuk mengalokasikan uang sebesar 1 juta rupiah setiap bulannya untuk dibelikan saham BBCA, dimana jika ada sisa uang cash dari pembelian tersebut (karena sisa uagnnya tidak cukup untuk dibelikan 1 lot saham BBCA), maka uang tersebut akan disimpan untuk pembelian bulan selanjutnya.

Pertanyaanya, jika kita melakukan hal tersebut secara konsisten setiap bulan sejak IPO tahun 2000 sampai akhir bulan lalu, berapa keuntungan yang kita peroleh ? Apakah hasilnya lebih besar daripada mendepositokan uang tersebut setiap bulannya ?

Dalam tabel di atas kita bisa mendapatkan hasil dari perhitungan yang dilakukan aplikasi tersebut, sejak awal IPO sampai sekarang, BBCA sudah diperdagangkan selama 209 bulan artinya jika setiap bulan kita menabung 1 juta maka total uang yang kita investasikan untuk membeli saham BBCA  ini sebesar 209 juta sampai akhir bulan September lalu.

Hasil dari investasi tersebut ternyata sangat mencengankan, uang 209 juta tersebut sudah berubah menjadi saham BBCA senilai 3.6 Milyar, artinya persentasi keuntungan yang diperoleh sebesar 1.623%. Jangan lupa dalam kasus ini kita tidak sedang membeli saham BBCA senilai 209 juta ketika IPO dan menyimpannya sampai hari ini.

Yang kita lakukan hanya membeli saham BBCA senilai 1 juta rupiah setiap awal bulan sejak IPO sampai sekarang, dan dengan metode yang begitu sederhana nilai uang yang kita investasikan sudah naik sebanyak 1.623% dari total yang kita tabungkan.

Sebagai perbandingan jika uang yang sama kita masukan ke dalam Deposito setiap bulan, dan bunga dari deposito tersebut kembali dimasukan ke dalam deposito bulan selanjutnya ditambahkan dengan uang 1 juta yang dialokasikan bulan tersebut. Jika kami mengambil asumsi bunga Deposito sebesar 10% setahun, tanpa dipotong pajak. Maka setelah 209 bulan, uang kita ‘hanya’ bertumbuh sebesar 170% dari modal atau sebesar 567 juta di akhir bulan September lalu.

Artinya menabung saham BBCA  memberikan hasil 7 kali lipat dibandingkan dengan desposito dengan bunga 10% per tahun, dan 16 kali lipat daripada kita menyimpan cash selama 209 bulan.

Berikut kami lampirkan grafik perbandingan antara Nabung Saham, Deposito, dan Simpan Cash

 

Perhitungan ini menunjukan kepada kita bahwa metode yang begitu sederhana dan terkesan ‘bodoh’ pun bisa menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Di tengah keterbatasan infomasi, investor ini memilih untuk berinvestasi di perusahaan yang dia tahu, dan karena dia hanya tahu BCA dia memilih hanya berinvestasi di saham BBCA. Padahal dalam periode yang sama dipercaya ada puluhan ribu investor ritel yang jauh lebih pintar justru gagal berinvestasi di pasar modal, karena memilih berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang tidak mereka kenal, hanya karena mengharapkan keuntungan luar biasa dalam jangka pendek.

Untuk lebih meyakingkan anda tentang kekuatan dari sistem ‘Menabung Saham’, kami juga melakukan simulasi dengan menggunakan periode-periode lainnya, bagaimana jika kita baru mulai menabung tahun 2010, atau bahkan baru mulai menabung pada tahun 2015 lalu.

Berikut kami lampirkan hasilnya :

Dari kedua simulasi di atas kita melihat bahwa meskipun kita ‘terlambat’ memulai dan baru mulai menabung saham BBCA sejak tahun 2015 lalu ketika harga BBCA sudah di 13.000an tetap saja keuntungan yang diperoleh dari menabung saham jauh lebih tinggi daripada deposito.

Dengan menggunakan aplikasi tersebut kami menguji beberapa metode yang kami anggap berpotensi memberikan keuntungan. Bagaimana kalau kita menabung setiap 3 bulan sekali ? Bagaimana kalau menabung di saham-saham yang harganya sempat turun signigikan, seperti di saham-saham batubara yang sudah turun dari tahun 2010 sampai tahun 2015 lalu ? Bagaimana jika kita hanya menabung saham-saham yang harganya sudah turun dibawah MA 200 ? Dan banyak strategi lainnya.

Kami akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam SEMINAR YUK NABUNG SAHAM yang untuk pertama kali diadakan di Jakarta, pada tanggal 28 Oktober 2017. Acara ini terlaksana berkat kerjasama antara Bursa Efek Indonesia, Creative Trading System dan MNC Sekuritas. Acara ini dapat diikuti oleh setiap Investor atau Calon Investor secara Gratis, cara mendapatkan undangannya dapat bisa dilihat disini

 

 

Source artikel: creative-trader.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes
Ahsanul KabirWeb Development